
Penguasa Kowloon
Penguasa Kowloon adalah roleplay cerita AI dengan Film Hong Kong, Gengster, Pengembangan Karakter.
Ikhtisar Dunia
Ringkasan
Juni 1997, hitung mundur 30 hari menjelang kembalinya Hong Kong. Lampu neon berdarah di bawah guyuran hujan, bos besar Ah Chang tewas mengenaskan, Hung Hing dilanda pertikaian internal, dan berbagai faksi mengincar dengan rakus. Kamu baru saja keluar dari penjara remaja, menghadapi dunia hitam tanpa naskah. Baik ingin merebut kembali wilayah, melindungi orang tercinta, atau mengungkap kebenaran, di tengah kekacauan terakhir ini, siapa yang berkuasa di Kowloon, kamulah yang menentukan.
Tema
Skala Dunia
20
Tokoh
25
Lore
3
Rute
Gaya Main
Rute Cerita
Pilih pembukamu di dalam · 3 rute
Latar Cerita
Kepulangan di Malam Berhujan
Juni 1997, Mong Kok
Hujan turun menyayat bagai pisau. Kamu berdiri di depan pintu Penjara Stanley, menatap air hujan yang menghantam gerbang besi hingga memercikkan asap putih. Di dalam saku hanya ada sepucuk surat, dengan tulisan "Peninggalan Ah Chang" di sampulnya. Kamu mematikan rokok terakhirmu dan naik ke minibus merah. Kabin mobil dipenuhi bau keringat dan dialog dari film Kanton klasik. Melalui kaca yang buram, lampu neon Kowloon tampak memanjang menjadi guratan merah dan biru di depan matamu.
"Sudah kembali?" Sopir minibus melirikmu dari spion tengah. Kamu tidak menjawab.
Mobil berhenti di Mong Kok Road. Kamu turun, hujan semakin deras. Papan nama Klub Malam Jin Zhizun berkedip-kedip di sudut jalan—masih karakter "Jin" yang merah pekat seperti darah. Kamu mendorong pintu terbuka. Udara dingin bercampur aroma parfum langsung menerpamu. Seorang wanita bersandar di tepi bar, rambut keritingnya terurai ke bahu, belahan gaun qipao-nya tinggi hingga ke pangkal paha, dengan sebatang rokok terselip di sudut bibirnya.
"Adik kecil." Kak Rose menjentikkan abu rokoknya, tersenyum tipis yang penuh arti, "Kamu masih belum mati juga?"
Sorot matanya berkilau di bawah cahaya neon. Kamu ingat betapa memikatnya dia saat masih muda. Meskipun sekarang ada kerutan di sudut matanya, dia tetap cantik hingga menusuk kalbu. Keheningan sesaat berlalu, hanya ada dengungan rendah dari AC.
Dia menyodorkan sebuah amplop: "Barang-barang Ah Chang, aku yang menyimpankannya untukmu."
Di dalam amplop itu bukan uang, melainkan sebuah lisensi kapal judi, dan sebaris kalimat—"Surat belum tentu tepercaya, hati manusia tak terselami."
Hujan di luar jendela belum juga reda. Suara pisau daging yang mencincang terdengar dari jalanan.

Saudara Seumur Hidup, Sebilah Pisau
Larut Malam, Temple Street, Yau Ma Tei
Asap putih dari kedai kaki lima membubung di bawah lampu neon. Kamu memisahkan sepasang sumpit, menjepit mi wonton, tetapi gigimu malah menggigit bibir sendiri. Di sekelilingmu, para pengunjung berteriak riuh, botol-botol bir saling berdenting.
Sebuah bayangan duduk di hadapanmu. Mengenakan setelan Tang hitam, dengan rantai emas tebal melingkar di dadanya—Chen Yiming. Ada bekas luka di wajahnya, tetapi sorot matanya tajam bagai anjing serigala.
"Kupikir kamu sudah mati di dalam sana." Dia merendahkan suaranya, menuangkan secangkir teh lalu menyodorkannya, "Bos benar, kamu pasti akan kembali."
Dia mengeluarkan bungkusan koran, membukanya, memperlihatkan sebilah pisau lipat dengan gagang yang dibalut selotip hitam. Tangan lainnya meletakkan seikat kunci: "Rumah aman, Mong Kok Barat. Kata sandinya hari ulang tahunmu."
"Ada beberapa barang peninggalan Paman Ah Chang yang harus kamu lihat sendiri. Kalau ada waktu luang, pergilah ke gedung tua di Sham Shui Po dulu untuk menemui Papamu."
Dia berdiri, menepuk pundakmu dengan keras. Kemudian lenyap di balik asap putih.
Kamu membuka pisau lipat itu, bilahnya memantulkan cahaya di bawah lampu neon. Dari pasar malam Yau Ma Tei terdengar sayup-sayup nyanyian opera—【Jiangjun Ling】.
Semangkuk mi wonton di atas meja sudah mendingin.

Malam Pertama
Dini Hari, Mong Kok Road
Hujan telah reda, tetapi udara masih terasa lembap. Berdiri di luar Jin Zhizun, tangan kirimu memegang lisensi kapal judi itu, sementara tangan kananmu menggenggam pisau lipat. Cahaya neon terpantul di genangan air, bagai cat yang tumpah.
Kamu teringat kata-kata terakhir Paman Ah Chang—"Surat belum tentu tepercaya, hati manusia tak terselami."
Ke mana kamu harus pergi?
"Kalau belum cukup umur pulang saja ke rumah, ini bukan tempat bermain untuk anak-anak."
Sebuah suara wanita memecah keheningan. Kamu menoleh, Madam Ah Hung sedang bersandar di bawah tiang lampu jalan, mengunyah permen karet dengan tatapan mata setajam elang. Dia menggaruk topi polisinya, menatapmu lekat-lekat.
"Ada bau pisau di tubuhmu."
Dia tidak melangkah maju, hanya memiringkan kepalanya sambil terus memperhatikanmu. Keringat di tanganmu membuat gagang pisau terasa lengket.
Di kejauhan, terdengar deru ban mobil melintasi jalanan basah. Dari jalanan bar terdengar suara perkelahian dan bunyi baskom jatuh ke tanah. Lampu neon di atas kepala berkedip hebat sekali.
Kamu menggenggam erat pisaumu, menarik napas dalam-dalam. Malam pertama, akhirnya kamu berdiri di hadapan Jianghu-mu sendiri.

0
Chat
Ulasan karakter
Lihat penilaian pengguna lain dan bagikan pengalaman Anda.