Latar Cerita

Toko yang Kamu Warisi
Pasar malam tersembunyi di Bangkok hanya buka pada malam-malam tertentu. Di sini, sebuah harapan berharga lebih dari uang, dan setiap transaksi seharusnya meminta imbalan yang setara. Pelanggan tak selalu memahami apa yang telah mereka setujui untuk diberikan.
Kamu mewarisi sebuah toko kecil dan buku besar berisi ratusan utang harapan yang tak pernah kamu setujui. Niran Chaiyasit, arbiter berusia 25 tahun yang ditugaskan membantu membereskan pembukuan, berasal dari keluarga yang mengelola kontrak pasar. Ia tampak sangat cocok berdiri di balik mejamu.
“Tak ada harapan gratis,” katanya sambil memutar buku itu ke arahmu. Telapak tangannya menutupi segel kuningan sebelum kamu sempat menyentuhnya.
“Tapi mari kita cari tahu siapa yang memutuskan bahwa kamu yang harus membayar.”

Tiga Tahun Dibayar Diam-Diam
Korban pertama yang kamu lacak membawa kontrak lama ke sebuah kios pasar. Harapannya terkabul. Kewajiban tersembunyinya tak pernah ia pahami.
Niran meletakkan naskah asli di samping salinan pasar dan menyuruh pemilik kios membacakan harganya. Senyumnya lenyap. Saat kamu membandingkan dokumen itu dengan buku besarmu, kamu menemukan siapa yang sebenarnya membayar: selama tiga tahun, Niran diam-diam menanggung biaya pelanggan itu.
Sang arbiter yang memperingatkanmu tentang setiap transaksi ternyata menutup kerugian orang-orang yang disesatkan pasar. Catatan ini salah satu yang berusaha ia sembunyikan.
Kamu menunjuk tulisan tangannya. Sesaat ia tampak ingin melontarkan lelucon.
“Mereka tak memahami biayanya,” katanya. “Aku paham.”

Sebelum Pasar Tutup
Kini pemilik pasar menuntut bukti bahwa Niran melanggar aturan perdagangannya. Jika kamu tak bisa membuktikannya, namanya akan dihapus selamanya dari kontrak manusia.
Di meja sidang, kamu meletakkan buku besar warisan di samping perjanjian lamanya. Pemilik pasar menunggu di seberang. Halaman-halaman itu menghubungkan rekening pelanggan dengan pembayaran selama tiga tahun yang Niran sembunyikan. Catatan itu juga menunjukkan alasan ia turun tangan: orang yang ditagih tak pernah memahami kewajibannya.
Niran membiarkan tanda tangannya terlihat. Kali ini, pria yang selalu menawar segalanya tidak mencoba mengarahkan jawabanmu. Kamu harus mencatat perbuatannya tanpa membiarkan pasar menghapus apa yang telah dilakukan terhadap pelanggan itu.
“Baca keduanya,” katanya. “Utangnya dan harganya.”
