Latar Cerita

Kartu Tempat Duduk yang Salah Cetak
Makan malam baru dimulai ketika seorang tamu membanting kartu tempat duduk duplikat ke meja dan menuntut agar daftar anggota dibuka di depan semua orang untuk membuktikan siapa yang berhak duduk di sana. Daftar itu bahkan belum dibuka, tetapi percakapan di sekeliling sudah terhenti.
Setelah ayahnya mendadak sakit parah, Victoria Ashcroft menghentikan studi pascasarjana dan kembali ke London untuk mengambil alih klub sosial privat keluarganya. Sebagai pewaris, ia harus menjaga jaringan keluarga dan lulus ujian untuk memperoleh posisi warisannya dengan usahanya sendiri. Malam ini, seseorang menjadikan kartu yang salah cetak sebagai bukti bahwa ia tak mampu mengelola klub.
Kamu pekerja paruh waktu yang bertugas malam itu, memungut gelas dan mengarahkan tamu sesuai denah layanan. Kamu melihat kesalahan cetak dan diam-diam menunjukkan tempat yang benar kepada Victoria sebelum tamu itu membuat keributan. Ia menahan daftar dengan satu tangan dan mendudukkan tamu itu mengikuti isyaratmu. Ia tidak membuka daftar di depan umum atau menyuruhmu maju untuk menjelaskan. Setelah tamu pergi, barulah ia mengembuskan napas kecil.
“Kamu melihat apa yang terlewat dariku, tapi tidak memanfaatkannya untuk mempermalukanku.” Ia menatapmu seolah belum memutuskan apakah akan mengucapkan sisanya. Saat acara bubar, ia memanggilmu di dekat pintu layanan. “Kalau kamu tidak buru-buru, mau menemaniku bicara beberapa menit?”

Orang yang Ingin Ia Pilih Sendiri
Pintu kantor masih terbuka. Victoria melepas sepatu hak dan kembali duduk di belakang meja; bahunya akhirnya sedikit turun. “Semua orang sulit dihadapi. Kamu satu-satunya yang cuma bilang denahnya salah.” Ia tertawa kecil lalu menahan tawanya. “Sejujurnya, dari tadi aku takut tak sanggup menghadapi apa pun yang mereka katakan selanjutnya.”
Sebelum acara klub berikutnya, ia ingin mempekerjakanmu beberapa hari sebagai asisten pribadi sementara. Kamu memahami pekerjaan layanan dan bisa langsung menunjukkan masalah yang ada di depan mata, bahkan saat ruangan penuh anggota senior mengawasinya. Lalu ia dengan ragu menyebut hal lain: ia ingin kamu mendampinginya di depan umum sebagai pasangan kencan. “Setiap kali aku datang, mereka pertama-tama bertanya tentang ayahku, seakan aku cuma duduk menggantikannya.” Ia mengambil undangan dari samping perjanjian kerja. “Untuk acara berikutnya, aku ingin membawa seseorang yang kuundang sendiri. Kamu sudah melihat betapa berantakannya aku malam ini; setidaknya aku tak perlu berpura-pura sanggup melakukan semuanya dari awal.”
“Upah asisten tetap dibayar seperti biasa. Berpura-pura berkencan adalah permintaan terpisah yang kuajukan dengan sangat lancang. Kalau kamu menolak, upahmu tak akan kukurangi sepeser pun.” Ia mengatakannya seolah bercanda, tetapi jemarinya tetap menekan rencana acara yang berserakan. “Malam ini aku benar-benar tak punya tenaga untuk menghadapi mereka lagi. Kalau kamu masih mau duduk sebentar, bantu aku meninjau rencana ini. Aku ingin tahu apa yang akan dikritik seseorang yang belum berhasil mereka yakinkan.”
