
Kuil Tiege
Kuil Tiege adalah roleplay cerita AI dengan Misteri Timur, Kultivasi Cthulhu, Ketegangan Horor.
Ikhtisar Dunia
Ringkasan
Kuil Tiege, sebuah kuil kuno yang tersembunyi di dalam pegunungan sunyi. Di permukaannya, cahaya Buddha bersinar terang dan penuh welas asih, namun kenyataannya ia adalah medan pembantaian Asura yang tumbuh dari tumpukan daging manusia. Kamu dulunya adalah "Daging Berkah" yang dipersembahkan kepada patung Buddha di kuil ini, tewas mengenaskan di gudang kayu, dan tulang-tulangmu direbus menjadi sup. Saat kamu mengira hidupmu telah berakhir, kamu terbangun dan mendapati dirimu telah menjadi hantu, terikat di kuil pemakan manusia ini. Para jagal di masa lalu belum menerima hukuman, iblis-iblis baru mendekam di dalam bayang-bayang, dan para pengelana tak berdosa masih melangkahi jalan lama untuk masuk ke dalam tanah kematian ini. Apakah kamu akan tenggelam dalam dendam dan menjadi iblis jahat yang sama, atau menyalakan pelita kesepian di tengah lautan mayat dan gunung darah, merintis jalan Dewa Hantu yang belum pernah ada sebelumnya? Di dunia misteri Timur yang penuh dengan kitab suci Buddha yang menyimpang, biksu hidup, iblis jahat, dan roh halus ini, kamu akan membalas dendam dengan tanganmu sendiri, menempa wilayah kultivasimu, menundukkan ratusan monster, dan akhirnya menjadi hukum serta pelita abadi di wilayah pegunungan ini.
Tema
Skala Dunia
21
Tokoh
119
Lore
4
Rute
Gaya Main
Rute Cerita
Pilih pembukamu di dalam · 4 rute
Latar Cerita
Senja Memasuki Kuil
Gerbang Gunung
Senja bagaikan darah yang membeku, menyelimuti lekukan pegunungan. Kamu berdiri di depan gerbang Kuil Tiege, di bawah kakimu ada tangga batu hijau yang mengilap karena sering dipijak, rumput liar yang tumbuh dari celah-celah batu gemetar ditiup angin malam. Kabut tebal keluar dari hutan, menyelimuti atap melengkung kuil kuno, membuat lonceng perunggu yang tergantung di sana tampak samar-samar.
Baru saja kamu hendak mengetuk pintu, pintu itu terbuka dengan sendirinya. Seorang biksu muda berdiri di balik pintu, memegang sebuah lentera kertas. Cahaya lilin menerangi wajahnya yang pucat dengan senyuman yang penuh kehati-hatian.
"Penderma, hari sudah malam, jalanan gunung sangat curam dan berbahaya, mengapa tidak beristirahat semalam saja di kuil?"
Suaranya sangat pelan, seolah takut mengejutkan sesuatu. Kamu menyadari ada beberapa noda gelap di bagian bawah jubah biksunya, tetapi rasa lelah dan lapar membuatmu tidak berpikir panjang. Kamu mengangguk, lalu melangkahi ambang pintu.
Gerbang gunung perlahan menutup di belakangmu, mengeluarkan suara desah yang berat.

Teh di Hadapan Buddha
Aula Utama
Biksu itu menuntunmu melewati jalan setapak batu hijau dan memasuki Aula Utama. Tidak ada lampu yang menyala di dalam aula, hanya api dari pelita abadi di depan altar Buddha yang bergoyang ditiup angin. Di tengah asap dupa yang mengepul, sebuah patung Buddha Sakyamuni menundukkan kepala dan matanya, namun di sudut bibirnya tampak menyunggingkan senyuman tipis yang samar.
Seorang biksu tua berwajah ramah berdiri dari bantal sembahyang, dialah sang kepala kuil, Liao Chen. Tubuhnya agak gemuk, jubah biksunya sangat bersih tanpa noda, dan tangannya memegang tasbih Buddha yang mengilap.
"Tamu jauh telah menempuh perjalanan yang melelahkan, saya, Liao Chen, mewakili seluruh kuil menyambut Penderma. Secangkir teh sederhana ini adalah bentuk keramahan kami."
Dia menyodorkan cangkir teh, aroma tehnya samar-samar memiliki rasa manis yang pekat. Kamu menerimanya, ujung jarimu menyentuh dinding cangkir, kehangatan yang terasa tidak mampu mengusir rasa dingin. Saat melihat sekeliling, abu di dalam pembakar dupa tampaknya menumpuk terlalu tebal, dan cairan merah tua merembes dari celah ubin lantai di sudut ruangan.
"Kuil kami sangat terpencil, jarang ada orang yang datang. Jika Penderma tidak terburu-buru, mengapa tidak tinggal beberapa hari lagi, biarkan saya menjamu Anda dengan baik."
Senyumannya terlalu sempurna, bagaikan topeng yang ditempelkan di wajahnya. Kamu menyesap teh sedikit, dan hatimu mulai merasa tidak tenang.

Tengah Malam
Kamar Biksu
Kamu ditempatkan di sebuah kamar kecil di bagian dalam asrama biksu. Saat membuka jendela kayu, di luar adalah hutan gunung yang gelap gulita, bahkan suara serangga pun sangat jarang terdengar. Di atas meja diletakkan sebuah lampu minyak, nyala apinya yang sekecil biji kacang hanya mampu menerangi area yang sangat sempit.
Kamu berbaring di atas ranjang kayu yang keras tanpa melepas pakaianmu. Kuil mengeluarkan berbagai suara aneh di malam hari: angin yang melewati koridor terdengar seperti tangisan wanita, dan dari kejauhan terdengar suara ketukan yang berirama—tidak seperti suara muyu, melainkan seperti benda tumpul yang menghantam sesuatu yang lunak dengan keras.
Yang lebih membuatmu ngeri adalah suara pelafalan sutra itu. Suara pria yang berat dan tidak jelas terdengar dari bawah tanah, terkadang terdengar serempak, terkadang diselingi oleh jeritan melengking yang tajam. Jeritan itu sangat singkat, seolah-olah mulutnya disumbat oleh sesuatu.
Kamu menahan napas, menggenggam erat pisau kecil yang kamu bawa. Naluri memberitahumu bahwa kuil ini sama sekali bukan tempat yang suci. Kapan lonceng pagi akan berbunyi? Atau, apakah kamu tidak akan pernah bisa melihat fajar?

0
Chat
Ulasan karakter
Lihat penilaian pengguna lain dan bagikan pengalaman Anda.