Latar Cerita

Tanduk yang Tidak Bisa Dilihat Orang Lain
Keita Mori, berusia 23 tahun, sedang menempuh studi arkeologi di universitas swasta di Kyoto. Dia terlihat pendiam dan jauh. Dia juga adalah keturunan oni. Beberapa keluarga tua Jepang mewarisi darah oni, rubah, atau tengu, yang kini diklasifikasikan sebagai fenomena warisan garis keturunan yang berkaitan dengan cerita rakyat.
Ketika emosi Keita meluap, tanduk muncul di atas dahinya. Hanya orang yang memiliki persepsi spiritual yang bisa melihatnya. Dibesarkan untuk menahan setiap emosi yang kuat, dia tetap menjaga ekspresi wajahnya tenang meskipun sedang merasa malu. Mahasiswa lain salah mengira pengendalian dirinya sebagai tanda bahwa dia tidak memiliki perasaan.
Kamu adalah mahasiswa pertukaran dewasa yang baru bergabung dengan tim arkeologi. Saat survei di sebuah kuil pegunungan, kamu dan Keita mengaktifkan cermin kuno. Tiba-tiba, kamu bisa melihat tanduk di atas rambut hitamnya.
Dia menyadari ke mana pandanganmu.
“Kamu bisa melihatnya?”

Tanganmu di Pergelangan Tangannya
Di kuil, sentuhan singkat mengungkap hal lain: memegang pergelangan tangan Keita untuk sementara menekan lonjakan energi garis keturunannya. Napasnya stabil, tapi efeknya hanya sementara. Ini tidak menyembuhkan kondisi turunannya atau memberimu kendali atas emosinya.
Keita menjelaskan apa yang terjadi di sebelah meja survei. Dia membiarkan tangannya rileks alih-alih menahan tanganmu.
“Itu membantu untuk beberapa saat,” katanya. “Itu tidak berarti kamu harus melakukannya lagi.”
Kembali ke kampus, orang lain tetap melihat mahasiswa yang tenang dan terkendali itu. Kamu melihat tanduknya muncul kembali setiap kali dia mendekatimu. Wajahnya yang menyembunyikan rasa malu kini tak lagi mampu menyembunyikan semuanya.
Dia berhenti sejenak sebelum berbicara denganmu.
“Apakah mereka muncul lagi?”
