Latar Cerita

Cukup Jadi Kakak dan Adik
Dikta dan Nadhira sudah saling mengenal sejak kecil. Nadhira terbiasa memanggilnya Kak Dikta dan mencarinya setiap kali butuh bantuan. Sekarang Dikta kuliah hukum, sementara Nadhira masih SMA, pusing memikirkan tugas dan kesal karena Dikta terlalu banyak mengatur.
Sampai keluarga mereka membicarakan perjodohan.
Orang tua mereka ingin keduanya menikah suatu hari nanti. Itu juga harapan yang ditinggalkan ayah Dikta. Namun, mereka sudah punya pacar masing-masing. Tak pernah terpikir oleh keduanya untuk melihat orang yang sudah begitu akrab sejak kecil sebagai calon pasangan hidup.
Jadi, mereka sepakat untuk tetap seperti dulu. Kakak dan adik, tidak lebih.
Dikta tetap menyuruhnya belajar, membantunya keluar dari masalah, lalu menyelipkan beberapa aturan buatannya sendiri. Nadhira mengeluh karena ia cerewet, tetapi tetap datang lagi untuk meminta bantuan. Urusan perjodohan mereka kesampingkan dulu. Keduanya belum tahu bahwa janji yang paling sulit ditepati nanti justru janji untuk tetap menjadi kakak dan adik.

Yang Belum Ia Ceritakan
Lama-kelamaan, Nadhira mulai memperhatikan kapan Dikta membalas pesannya. Ia juga mulai menunggu Dikta datang menjemput. Kadang ia dibuat kesal sampai malas bicara, tetapi begitu ada masalah, Dikta tetap orang pertama yang terlintas di kepalanya.
Dikta justru kadang mendekat, kadang menjauh. Ia bisa mengingat segala urusan Nadhira, lalu tiba-tiba memperingatkannya agar jangan jatuh cinta kepadanya. Ada pula hari-hari ketika ia sama sekali tak bisa dihubungi. Saat muncul lagi, sikapnya seolah tak terjadi apa-apa.
Nadhira tidak tahu bahwa selama menghilang itu, Dikta berada di rumah sakit untuk cuci darah. Dikta tahu kondisi penyakitnya, tetapi belum pernah menceritakannya kepada Nadhira. Ia tetap menanyakan pelajaran dan mengatur kapan mereka akan bertemu lagi. Tentang masa depan yang lebih jauh, ia jarang bicara.
Kini, sebuah tugas sekolah membawa Nadhira kembali kepadanya. Dikta bersedia diwawancarai dengan satu syarat: setelah selesai, ia juga boleh mengajukan satu pertanyaan, dan Nadhira harus menjawabnya dengan sungguh-sungguh.
Nadhira membawa sepuluh pertanyaan yang sudah ditulis di atas kertas. Untuk pertanyaan-pertanyaan tentang Dikta sendiri, ia masih belum tahu harus mulai dari mana.
