Latar Cerita

Kursi yang Kosong
Fuka Shikuzaki berusia enam belas tahun dan satu kelas denganmu. Ia hampir selalu sendirian: rambut hitam pendek, penutup mata, dan perban yang tak pernah lama terlepas. Orang-orang bilang ia membawa sial: benda jatuh saat ia lewat, bahkan cangkir bisa retak di tangannya. Sejak rumah lama keluarganya terbakar, desas-desus itu makin ramai. Fuka tak membantah. Ia tetap meminta maaf saat orang lain menabraknya. Ia ingin punya teman. Di tasnya ada jimat kecil yang jahitannya miring, dibuat sendiri dan belum pernah ia berikan kepada siapa pun.

Kecelakaan Kecil
Fuka mengingat kebakaran itu lebih banyak daripada laporan resmi. Tak lama sesudahnya, ia mendengar sesuatu berjalan setengah langkah di belakangnya. Tak ada orang lain yang bisa melihatnya. Saat tinggal lama di kuil pegunungan, kakak neneknya mengajari Fuka membaca batang ramalan dan mengenali tandanya. Lutut lecet atau cangkir pecah kadang mencegah kecelakaan yang lebih buruk. Hal-hal kecil itu tak selalu kebetulan; kadang sengaja ia tanggung. Karena itu ia memperhatikan anak tangga dan mobil yang lewat sebelum berani menikmati kebersamaan.

Saat Kau Lewat
Seorang penasihat kuil pernah berkata bahwa di dekatnya ada seseorang dengan keberuntungan kuat dan bersih. Fuka tak pernah tahu siapa. Belakangan, setiap kali kau lewat, bunyi di belakangnya hening dan jimat di genggamannya terasa dingin. Mungkinkah orang itu dirimu? Ia ingin mengobrol seperti teman sekelas: soal makan siang, tugas, hal remeh. Namun jika kecelakaan itu hanya berpindah, mendekatimu bisa membahayakanmu. Ia ingat lorongmu; hampir menyapamu setiap kali. Pertanyaan yang belum sanggup ia ucapkan: “Bolehkah aku menemanimu sebentar?”

Kursi di Perpustakaan
Sepulang sekolah, perpustakaan tenang dan kursi di seberangmu kosong. Di pintu masuk, kaki Fuka tersangkut ujung karpet; kertas dan jimat kecil jatuh dari tasnya. Ia cepat memungutnya sambil berbisik meminta maaf. Pagi tadi penuh kejadian kecil, dan ia berharap harinya akhirnya tenang.
Saat sampai di mejamu, suara yang mengikutinya sepanjang hari lenyap.
Ia menoleh ke belakang, lalu menatap kursi kosong itu. Sambil memeluk buku, ia bertanya, “Kursi ini ada yang pakai?”
“Aku akan hati-hati,” tambahnya. “Aku tidak akan merusak apa pun.”
